PENGABDIAN AKHIR PRESIDEN MERAPI


Seorang kakek berusia 83 tahun  ditemukan di kamar mandi rumahnya dalam keadaan sujud, tewas karena keganasan awan panas atau wedus gembel dari Gunung Merapi 26 Oktober 2010. Ialah Mbah Maridjan sang Juru Kunci Gunung Merapi, yang merupakan sosok kontroversial dalam tugasnya. Saat Gunung Merapi meletus pada 2006, imbauan pemerintah daerah dan bujukan aparat keamanan agar Mbah Maridjan turun mengungsi tak dihiraukan. Bahkan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono X telah mengatakan agar perintah pemerintah dipatuhi. "Biarpun saya jadi Sultan, saya tunduk kepada keputusan pemerintah," kata Sultan saat Merapi meletus pada April 2006. 

Juru kunci bergelar Mas Penewu Suraksohargo ini tetap bergeming. "Setiap orang punya tugas sendiri-sendiri. Wartawan, tentara, polisi punya tugas. Saya juga punya tugas untuk tetap di sini," kata Mbah Maridjan.

Mbah Maridjan menjalankan tugasnya dalam kapasitasnya sebagai abdi dalem yang menganut istilah sendika dawuh (siap diperintah). Apapun yang diperintahkan raja adalah kewajiban yang harus dijalani, apapun risikonya. Saat itu, Mbah Maridjan mengatakan, untuk turun, dia harus menunggu perintah Sultan Hamengku Buwono IX. Bagi masyarakat awam, tentu tidak masuk akal karena Sultan Hamengku Buwono IX sudah meninggal. Tapi bagi Mbah Maridjan, itu bukan hal mustahil karena bila bicara tentang Gunung Merapi dan Mbah Maridjan kita tidak bisa lepas dari cerita alam gaib yang berkuasa di kawasan Merapi.

Saat Gunung Merapi berubah status menjadi awas pada 25 Oktober 2010, Mbah Maridjan pun menolak mengungsi. “Lha saya di sini (di rumah) kerasan. Nanti kalau ada tamu ke sini malah kecele kalau saya pergi,” kata Mbah Maridjan.

Bagi Mbah Maridjan, tetap tinggal di rumah lebih aman dan nyaman. Bahkan dengan bertemu para tamu yang silih berganti datang menemuinya untuk meminta nasehat adalah hiburan baginya.
Kepada keluarga, terakhir kali Mbah Maridjan bilang, "Ngantiyo piye aku gak mudun" (meskipun Gunung Merapi meletus saya tidak akan turun)." 

Maridjan yang bernama asli
Mas Penewu Surakso Hargo menjadi juru kunci Gunung Merapi atas perintah Sultan Hamengku Buwono IX. Sebelumnya, tugas berat itu disandang ayahnya, Kerrtorejo, sejak 1950 hingga 1982. Sepeninggal sang ayah, Maridjan diberi kekancingan yang ditugaskan menunggu Gunung Merapi sejak 1983. Tugas utama Mbah Maridjan sebagai juru kunci, sebagai pelaksana upacara sakral tahunan Labuhan Merapi, yaitu sebuah upacara pemberian sesaji kepada gunung Merapi setiap tanggalan Jawa 30 Rejeb.

Sebagai juru kunci Merapi, Maridjan pertama kali hanya menerima upah sebesar Rp 100 (seratus rupiah) pada 1974. Angka itu terus bertambah seiring dengan kenaikan pangkatnya. Upah itu ia terima dari Keraton. Uang bulanan tersebut mesti ia ambil dengan turun gunung setiap bulannya ke keraton yang berjarak sekitar 30 kilometer. 

Semua pengabdian yang ia bawa hingga ajal adalah sebagai wujud tanggung jawab, tak hanya kepada pimpinannya, tetapi juga pada masyarakat yang ia naungi, alam yang ia jaga dan wujud kepasrahan yang ikhlas pada Yang Maha Kuasa.

1 comment:

Bpk Rusdi said...

Buat saudara punya permasalahan ekonomi:hub aki santoro karna saya sudah membuktikan bantuan aki santoro yang berminat hub di no 0823 1294 9955 atau   KLIK DISINI 100% tembus