CINTA HANYALAH SARANA


Matanya berkaca-kaca memandang kosong ke depan toko, lamunannya menyeberang ke suatu waktu yang lalu. Saat ia merasa seluruh semangat dan jerih payahnya membuyar hilang, seperti dedaunan kering  tersapu badai. Galleri kerajinan  yang baru 3 bulan dijalankan harus ia tutup. Modal usaha yang dijanjikan rekan kerja dan bantuan memasarkan barang tak ternyata, terjepitlah ia tak bisa berbuat banyak.
Galleri yang Kaloka buka dari pagi ke sore selama tiga bulan itu ternyata tak satupun terjual, mereka yang datang cuma melihat dengan tawaran harga yang tidak sepantas. Tempat galleri yang ia sewa di kota rantau itu, ternyata oleh rekannya diberikan di daerah pinggiran kota yang penduduknya banyak menjadi buruh pabrik dan pekerja harian, jadi barang kerajinan di gallerinya seakan menjadi barang mewah.
Dalam keadaan yang susah itu, ia seakan memperoleh suatu penyinaran dalam hatinya. Pikirannya terngiang-giang seorang sahabat ketika masih sekolah, ia wanita yang manis, pintar dan berakhlaq. Dalam hatinya tertanam rasa kagum bercampur perasaan kasih. Teringat kisah Afa nama gadis itu, saat bersekolah sudah “bercinta monyet” dengan teman dekatnya sendiri, karenanya perasaan Kaloka simpan dalam hatinya sendiri. Suatu waktu tak sengaja ia melihat surat curhat Afa pada teman wanitanya, ia seakan berteriak di surat itu. Ternyata Afa telah putus cinta, ia bercerita tentang kegundahan hatinya, dan doa-doa penuh tangisan usai sholatnya. Mata Kaloka ternganga melihat kisah yang dianggapnya seperti kisah novel, cinta Afa yang dikiranya cinta monyet ternyata sebuah ketulusan kasih pada lawan jenisnya.
Kaloka seolah merasakan kegaguman dan perasaan suka pada Afa kembali tertanam, bahkan lebih dalam. Padahal mereka sudah 5 tahun tak pernah bertemu usai lulus sekolah. Hanyalah sekali berjumpa, waktu reuni  itupun 2 tahun yang lalu.  Perasaan dekat dengan sang gadis idaman bahkan rasa ingin memilikinya begitu dalam, tetapi kesadarannya tetaplah terjaga. Kaloka tahu bahwa itu hanyalah angan di saat pikirannya sedang terpuruk kacau. Namun banyangan Afa selalu muncul, semangatnya untuk dapat bertemu lagi dengan Afa dengan keadaan yang lebih baikpun mulai membara dalam hatinya. “Untuk dapat mendekati Afa yang pintar, cantik dan terlebih anak seorang Ustazd, maka aku harus menjadi orang yang bertaqwa dan sukses,” teriakan itu menggelora dalam hati Kaloka. Ia yang dulu sholatnya molor waktu dan malas ibadah sunah, mulai berubah. Khumandang azan ia sudah berada di masjid, bahkan terkadang menjadi muadzin. Hujan rintih di waktu subuh tak menghalangi jalannya beribadah. Mulai terbiasa terbangun di akhir malam, mungkinjuga karena lapar perutnya, ia mendirikan sholat tahajjud, berdzikir dalam keheningan. Sholat Dhuha di pagi hari, Puasa Daudpun mulai ia jalani. Sungguh semangat untuk bangun dari keterpurukan dan menjadi pribadi yang beriman bangkit oleh bayangan cinta Afa.
Usaha galleri Kaloka akhirnya ditutup, ia pindah ke lain kota.  Kaloka mulai mencari pekerjaan sembari memasarkan sisa kerajinannya. Ia masih terbebani mengembalikan modal usaha yang berasal dari saudara-saudaranya. Keadaan membaik, ia  mulai mendapat kepercayaan memasarkan barang dari teman-teman lamanya.  “ Hadapi apa yang ada, hidup adalah anugerah, tetap jalani hidup ini, perlakukan yang terbaik, jangan menyerah….jangan menyerah…jangan menyerah,” sepotong lirik lagu Jangan Menyerah d'Masiv turut menggugah semangat untuk bangun dari kesusahan.
Kini setelah Kaloka mulai merintis usahanya lagi, seolah ia ingin berterima kasih pada Afa. Atas bayangan gadis itu, yang tulus mencintai dan akhlaq yang baik telah mampu membuatnya merasakan rasa kasih cinta, yang telah mampu sarana membakar semangatnya untuk terbangun dari kesusahan dan menjadi pribadi yang lebih bertaqwa. Mungkin Afa  bingung bila Kaloka mengutarakan kisahnya, tetapi ia tetap akan menyimpan rasa kagum,kasih dan keinginan memiliki itu dalam sekotak peti yang terikat kuat di dasar hatinya. Kerugian materi yang pernah ia alami ternyata tak lebih berharga dibanding keuntungan ketaqwaan yang meningkat, dan biarlah tetap bisa merasakan nikmatnya mencinta dalam angan.

No comments: