INDONESIA POHON SERIBU DAHAN


Indonesia adalah “ Pohon Seribu Dahan,” satuan gambar dari sususan jutaan puzlle. Kita adalah suatu bangsa yang telah lahir ribuan tahun lampau, bukannya sebuah negara yang baru lahir tahun 1945. Jikalau anggapan bahwa persatuan Nusantara adalah proyek ambisius Mahapatih Gajah Mada, maka hal tersebut adalah cekokan paradigma kaum penjajah. Ribuan suku daerah di Nusantara telah memilki hubungan yang harmonis, kesamaan tuntunan tata hidup kekerabatan yang telah menghasilkan sebuah peradaban yang maha harmonis tak tertandingi di belahan dunia lain.

Perkembangan Indonesia tak dapat ditampik bahwa di Jawa-lah sebagai pusatnya. Jawa merupakan pusat keagamaan mulai dari Hindu, Budha, hingga berkembangnya Islam sebagai agama mayoritas. Namun pandangan terhadap Jawa ( Jawaisme ) janganlah dianggap sempit atau lokal saja bahwa Jawaisme adalah kejayaan dan kekuasaan suku Jawa belaka. Jawa itu sebuah atmosfir peradaban, anggapan bahwa Jawa itu hanya sebatas suku bangsa atau pulau adalah pengaruh oleh pandangan kolonial. Jawa itu tatanan budi pengerti. Jadi jangkauannya itu sangat luas sekali, artinya tidak dibatasi oleh sekat-sekat geografis. Bukti bila mengikuti warisan sejarah berupa prasasti-prasasti, maka prasasti-prasasti yang mengandung kata “jawa dwipara” tidak hanya ditemukan di Pulau Jawa saja. Kata ini juga terdapat di Indochina, di Maladewa, Madagaskar, Colamandala di India dan bahkan kata "hawai” arti genealogisnya adalah “ jawa kecil."

Hubungan antara Jawa dan Islam sebagai agama terbesar sangatlah erat, karena “Islam adalah Jawa” dan “Jawa adalah Islam”, karena orang Jawa memahami kabudayaan, kesenian, adat istiadat dan semua yang ada dalam budaya mereka sebagai perwujudan konversi dari semangat "rahmatan lil a’lamiin" (rahmat bagi semesta alam) dan "bilisani qaumihi" (disampaikan dalam bahasa kaumnya). Hal ini yang sekarang sudah terputus dan tidak mau dipahami orang saat melihat praktik keagamaan orang Jawa. Jika pemaknaan Islam harus dilakukan lewat cara Arabisme akan melanggaran serius terhadap konsep "rahmatan lil a’lamiin" dan konsep "bilisani qaumihi" dalam semangat Islam itu sendiri. Hari ini kita selalu memindai hubungan antara Islam dengan budaya Jawa dengan kacamata orang lain. Misalnya saja para intelektual hampir selalu melihat hal ini dari kacamata Barat yang dari basic-nya menggunakan dialektika, kontradiksi mitos-logos, dan lain-lain. Hal ini jelas akan berbeda hasilnya jika konsep-konsep Barat itu digunakan untuk menganalisa budaya Indonesia.

Masyarakat Indonesia sudah terlanjur melihat cara-cara Barat atau Arab sebagai metode yang universal untuk menganalisa gejala apapun. Sunan Kalijogo pernah berkata, bahwa budaya Jawa harus berani menasehati dunia. Istilah beliau “kondobuwono” atau “ harus bersikap kritis,” setidaknya setiap orang harus memiliki peranan. Berani memberikan nasehat, melakukan penyempurnaan paradigmatik dan metafisik kepada konsep-konsep yang datangnya dari luar.

Sekarang penerapan ajaran Islam dipaksakan untuk seragam, kemudian di mana letak “rahmat bagi alam semesta-nya?” Justru Islam itu memang diharuskan beragam, karena begitulah manusia telah diciptakan dalam keberagaman. Membuat Islam di seluruh dunia jadi homogen justru hanya membuat kerdil Islam itu sendiri. Sekarang di Indonesia telah terjadi Sinkritisme untuk mengangankan dua himpunan yang berbeda menjadi bersatu dengan operasinya dialektika. Jika cara-cara orang Jawa ber-Islam dianggap sudah tidak murni karena “dikotori” dengan ajaran Hindu dan Buddha, maka merupakan cara pandang kolonial. Kaum kolonial telah membagi periodeisasi sejarah Indonesia berdasarkan penghancuran-penghancuran keyakinan: Hindu dihancurkan oleh Buddha, Hindu-Buddha dihancurkan Islam dan seterusnya. Sehingga ditimbulkan terjadinya teori konflik yang sangat kental. Sehingga menjadi heran mengapa orang-orang Islam mau memakai periodeisasi yang dipakai oleh penjajah kolonial untuk memecah belah bangsa ini.

Analisa para indonesianis atau pakar-pakar dari mancanegara tidak nyambung dengan konteks keberagaman Indonesia. Jika cara pandang sejarah Eropa harus “dicopy-pastekan” ke sejarah Indonesia, maka konteks budaya, sosiologis, antropologis-nya jelas berbeda. Hal yang berbeda jadi kenapa dipaksakan ? Misalnya soal teori Geertz (Clliford James Geertz, antropolog asal Amerika Serikat) tentang "Trikotomi" antara santri, abangan dan priyayi, yang justru menghilangkan peran ulama pujangga seperti Ronggowarsito dan budayawan Islam lainnya. Jadi orang-orang seperti Ronggowarsito itu lenyap dari peta sosiologis Indonesia gara-gara Geertz. Sedangkan dalam contohnya Tembang Pangkur dari Serat Rerepen, Eyang Ronggowarsito ( Pujangga Jawa ) bercerita tentang keharmonisan antara agama (Islam) dan budaya (Jawa).

Kembalikan pada niat memahami hakekat penciptaan, akankah keharmonisan yang telah lama dibangun bangsa ini hancur sekejap oleh cara berpikir yang dikatakan modern tetapi tidak sesuai dengan tuntunan adat dan keagamaan yang telah terbukti dapat menyatukan keberagaman dalam bingkai bangsa Indonesia.


Sumber : islam-indonesia.com

No comments: