TANGIS BAYI ANAK KHATULISTIWA


Terlahir dari negeri yang subur dan kaya akan sumber daya alam, bayi-bayi mungil yang baru menghirup udara segar di negeri kita Negara Kesatuan Republik Indonesia “menangis” karena sedih terlahir di masa negaranya yang belum bisa mencari uang sendiri, malahan terlahir sudah terbebani hutang 7,4 juta rupiah.
Seperti diketahui, Indonesia yang berpenduduk 237,6 juta jiwa harus memenuhi kebutuhan anggaran pembangunan dari utang yang sampai Januari 2012 telah mencapai 1.803 triliun rupiah. Dengan jumlah utang sebanyak itu, rata-rata penduduk Indonesia harus menanggung utang 7,4 juta rupiah per kapita. Hal inilah yang menjadi salah satu akar musabab kemiskinan di Indonesia. Selain itu ada beberapa hal berikut yang dianggap sebagai penguat tingkat kemiskinan di Indonesia :

1. Tingkat pendidikan yang rendah dan pengguasaan teknologi masih kurang
 2. Produktivitas tenaga kerja & etos kerja rendah
3. Distribusi pendapatan yang timpang
4. Kultur / budaya
 5. Politik & Jaminan hukum yang adil belum terjamin

kesemua faktor tersebut di atas saling mempengaruhi, dan sulit memastikan penyebab kemiskinan yang paling utama atau faktor mana yang berpengaruh langsung maupun tidak langsung. Kesemua faktor tersebut merupakan VICIOIS CIRCLE (Lingkaran setan) dalam masalah timbulnya kemiskinan di Indonesia.
Namun tanpa terlepas dari semua faktor di atas, sesungguhnya dengan melimpahnya kekayaan Indonesia, bilalah selemahnya bangsa ini belum sanggup mengelolanya dengan “mengkontrakkan” saja sumber daya alam kita pada pihak lain dengan harga yang sesuai, tidaklah keadaan negera seperti saat ini. Berarti ada yang salah dari para pengelola negara ini. Trias Political yang menjadi tampu kekuasaan Indonesia telah telah ingkar akan amanat dalam tujuan negara ini menuju kesejahteraan yang adil.

1. Perubahan pasal-pasal dalam Undang-Undang Dasar (UUD) 45 menuju kapilatisme
Melalui amandemen 2002, dinilai menjadi penyebab bangsa kurang mempunyai kemerdekaan, berdaulat, dan kurang memperoleh keadilan serta kemakmuran. Sistem ekonomi kerakyatan yang jelas keberpihakannya secara tersembunyi telah diganti sistem ekonomikapitalistik. Akibatnya dalam penjabaran melalui UU atau peraturan lain, dominasi kapitalisme tidak dapat dihindari. Akibatnya, kemajuan perekonomian cenderung dinikmati para pemilik kapital yang mayoritas investor asing, rakyat hanya menjadi pelengkap penderita dari sistem perekonomian kapitalistik tersebut.

2. Falsafah demokrasi di Indonesia semakin bergeser jauh dari nilai-nilai hikmat kebijaksanaan dalam konteks yang ideal. Permusyawaran digantikan voting, dan sistem perwakilan digantikan oleh pemilihan secara langsung. Dampaknya, representasi kekuatan modal menjadi ukuran bagi layak tidaknya seseorang dicalonkan sebagai pemimpin. Anomali ini terus berlangsung bukan dalam wajah demokrasi yang membawa kemakmuran rakyat, melainkan demokrasi yang menampilkan kuatnya pengaruh uang di dalam setiap rekrutmen jabatan publik. Di sisi lain, rakyat sebagai pemegang kedaulatan hanya menjadi objek semata. Bahkan rakyat semakin terpinggirkan dalam potret kemiskinan, kebodohan, dan ketidakadilan.

3. Tindak kekerasan, praktik korupsi, penegakan hukum, serta pelanggaran HAM. Kecederungan negara yang melakukan pembiaran atas berbagai tindak kekerasan. Kekerasan kian merebak dengan intensitas dan eskalasi yang semakin meluas. Hal itu menggambarkan betapa sulitnya untuk mendapat rasa aman. Rakyat berhadapan dengan rakyat, rakyat berhadapan dengan penegak hukum, dan rakyat berhadapan dengan penguasa, dan para pihak yang hanya mencari keuntungan. Tindak kekerasan yang mengatasnamakan agama pun semakin sering terjadi dan dengan mudah mereka mengatakan “selamat tinggal kebhinekaan Indonesia.” Rakyat yang ingin bertahan hidup harus berhadapan dengan undang-undang negara yang mengijinkan pengerukan berbagai sumber daya Indonesia pada pihak asing tanpa imbal balik yang sesuai bagi kesejahteraan rakyat.

Lalu apakah yang harus kita lakukan agar bayi – bayi yang akan lahir di negeri ini tidak “menangis histeris” melihat kondisi negaranya. Banyaknya sistem dan peraturan yang tidak amanah pada kesejahteraan rakyat harus dapat dirubah dari dalam institusi tersebut. Hal ini membutuhkan tekad yang kuat dan diperlukan pemimpin tegas dan amanah di belakangnya. Namun hal ini sulit terjadi pada saat ini, kekuatan dari dalam pengelola negeri ini masih dalam lingkaran setan yang sulit dirombak. Dibutuhkan energi dari luar, elemen kekuatan baru yang tidak terkait dari orde penguasa lama, amanah dan tegas untuk dapat merubah kondisi bangsa ini.

Berserulah wahai anak negeri khatulistiwa
Putra – putri yang ibunya sedang berbaring lemah tergadai
Diam jangan membuat kerusakan jikalau engkau tak mampu melawan
Lacur..mereka yang telah menjual isi perut ibunya dengan murah, khianati saudara sedarah 
Tunggulah sambil bersiap menyambut cahaya baru, wahai saudaraku
Jangan diam ketika mendengar jeritan bayi – bayi naas anak negeri
Aku, kamu, dia, mereka bisa membuat perubahan nyata
 Tunggu…tunggu sambil bersiap kita akan berjaya

No comments: